Sepucuk ego segenggam sesal

Posted by Leiron Minggu, 14 April 2013 0 komentar

Bulan sabit yang kata adik kecil seperti  bentuk pisang kesukaannya yang selalu dibelikan mama saat ke pasar supaya ia tidak merengek untuk minta ikut ke pasar  di sertai hamparan langit gelap dengan cahaya kerlap kerlip dari berlian malam adalah satu dari ribuan malam yang ku kenang.

Seseorang pernah berkata seperti ini padaku sambil menunjuk langit
“ini bintang yang di tandai oleh para pelaut supaya mereka tidak tersesat kalau ini rasi bintang yang  akan terlihat saat musim ini”. Sambil menunjuk bintang bintang di langit.

Sampai sekarang kalimat itu ada dalam kepalaku tapi aku tidak pernah tau bintang mana yang ia maksud, aku hanya megangguk karena malam sudah terlalu larut untuk membahas banyak hal. Ayahku dulunya seorang pelaut sebelum ia bertemu ibu. Dia mengunjungi banyak tempat di belahan nusantara, saat bercerita tentang laut sinar matanya akan berubah mengenang apa yang ia lalui di seberang laut sana ia akan berubah jadi sangat bersemangat. Sepanjang malampun ceritanya takkan pernah usai, ia akan bercerita tentang petualangannya, orang orang yang di kenalnya dalam persinggahan, pantai pantai yang ia kunjungi, dan tentu saja pesona laut dahulu.

Katanya sekarang dan dulu laut sangat berbeda padahal ini baru berjarak 30 tahunan dari saat aku melalut. Tapi menurutku pemikiraannya aneh tentang laut katanya ikan ikan tidak berkurang tapi hanya bermigrasi ke tempat yang aman jauh dari manusia egois yang menggunakan bom dan pukat harimau untuk menangkap mereka. Ayahku dengan ajarannya yang ketat terhadap kami anak anaknya itu karena pengalaman hidupnya yang begitu sulit. Kau harus menghargai hidup, nyawa setiap benda  yang kamu miliki di dunia tergantung pada kamu, apa kamu manyayanginya dan merawat mereka. Jika kupikir nasehat yang satu itu memang benar segalanya tergantung manusia terlepas dari takdir dan waktu yang mangatur. Manusia adalah pemimpin dunia kan ?

Banyak sekali yang berubah tentang laut, alam dan pastinya peradaban manusia, semuanya ada dalam ikatan yang saling terhubung dan mustahil untuk terlepas. Peradaban manusa makin maju dengan penemuan penemuan baru dari orang orang jenius dunia, mereka bertekad menciptakan dunia yang lebih maju. Pembangunan makin berkembang pesat, gedung gedung tercipta dan untuk menciptakan semua itu harus ada yang di korbankan. Hutan jadi pilihan, pohon berumur ribuan tahu dibabat habis dan polusi dan pencemaran jadi konsekuensi dari berdinya gedung cantik nan kokoh. Tapi makin banyak pula dari kita yang sadar akan pentingnya alam bagi kita dan dengan melakukan usaha usaha tertentu mereka mencoba untuk kembali menjalin ikatan dengan sahabat nenek moyang mereka “Alam”.

Aku setuju dengan Dee dalam sala satu novel supernova edisi partikel bahwa kegiatan pengembalian hutan seperti sediakala hanyalah simbolis,sekedar pelipur bagi rasa bersalah kita yang telah merampas sedemikian banyak dari alam, alamlah yang punya kekuatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan atau tampa kita (hlm 190). Tapi pastinya alam punya kekuatan menyembuhkan jika manusia penuh ego tidak mengusik.

Bagaimana murka –Nya Allah melihat para khalifah yang ia ciptakan merusak segala 
ciptaan – Nya yang seharusnya ia jaga ? pikirkan karena kita adalah generasi selanjutnya yang akan menjaga bumi.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Sepucuk ego segenggam sesal
Ditulis oleh Leiron
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://lembaranpemimpi.blogspot.com/2013/04/sepucuk-ego-segenggam-penyesalan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by Berita Update - Trik SEO Terbaru. Original design by Bamz | Copyright of Catatan Sang Pemimpi.