Dalam balutan bencana
Jumat, 08 Maret 2013
0
komentar
Kemarahan, kesedihan dan kekecewaan dalam balutan
bencana
Ini kisah tentang hubungan manusia dan bumi yang terjalin
sejak berabad abad yang lalu. Kapan di mulainya ? tidak ada yang tau.
Sepasang manusia dan
bumi dulunya pernah saling bicara mereka membuat kesepakatan sebelum manusia
menetap di bumi. Katanya “ ia akan mengisinkan manusia tinggal di tubuhnya jika
ia berjanji untuk selalu menyayanginya, merawatnya dan menjaganya sampai
kehancuran menjemputnya”. Manusia pun berkata “iya” untuk menjawabnya.
Waktu berjalan dan berjalan tampa bisa kita pahami apa
arti dari waktu yang telah berlalu. Semakin lama manusia dan alam saling
mengerti dan selalu saling manyayangi walau tampa kata dari mereka. Saat sepasang
manusia itu bahagia alam ikut menari dalam alunan bisikan angin dan keceriaan
pepohonan. Begitulah mereka saling mengerti dan saling menyayangi.
Hingga saat terkhirnya di bumi ia masih tetap menepati
janjinya tapi keturunanya mulai mangabaikan segala janji terhadap bumi. Perjanjian
bumi dan manusia itu sama halnya perjanjian jiwa dan raga sebelum Tuhan
meniupkan roh ke tubuh kita.
Pada saat itu alam bergemuruh melepas kepergiannya,
baginya ia adalah temannya. Berbeda dengan sahabat alam itu para teturunannya
mulai melanggar perjanjian dan hanya mementingkan ego mereka masing masing.
Berabad
abad kemudian manusia makin tidak mampu mengenal buminya lagi sebagai teman
hidup. Mereka hanya menganggap bumi itu sebagai tempat hidup mereka dan dialah
yang berhak mengendalikan seluruh yang ada di dalamnya.
Bumi
sangat sedih melihat tubuhnya menjadi tempat tak terurus tampa hijau zamrudnya
dulu, permata dan kilauannya kini memburam dan mungkin akan jadi gelap tampa
kilauan. Akhirnya sang bumi meminta angin,air, awan, dan tanah membuat manusia menderita atas segala
keegoisannya. Puting beliung, longsor, tsunami, banjir segalnya terjadi dan
selama manusia tak sadar hal itu akan terus terjadi.
Mungkin
jika kita menyayangi alam hal seperti itu takkan membuat manusia tersiksa walau
kita sama sama tau bahwa itu kejadian yang alami tapi kadang Tuhan memberikan
itu karna kita sebagai manusia tak pernah sadar akan hakikat kita dan kesadaran
itu seakan tak pernah membuat kita berhenti untuk merusak.
Tanyakan
pada diri kalian bagaimana perasaan bumi kita, hanya di tempati dan di rusak
tampa tau bagaimana kita harusnya bertindak untuk memperbaiki dan menjaganya.
ini memang cerita fiksi tentang bumi tapi renungkan apa yang akan kau lakukan jika hanya di manfaatkan dan tidak di perhatikan. jadi setelah ini apa yang kau lakukan ?
tetap menjadi penghuni yang ttidak tau diri ??
tetap menjadi penghuni yang ttidak tau diri ??
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Dalam balutan bencana
Ditulis oleh Leiron
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://lembaranpemimpi.blogspot.com/2013/03/dalam-balutan-bencana.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Leiron
Rating Blog 5 dari 5
0 komentar:
Posting Komentar